Teori pembelajaran kognitif dan teori pembelajaran sosial yang melandasi pembelajaran Kimia:
Teori Pembelajaran Kognitif
Ketrampilan memperoleh pengetahuan yang ingin dibentuk adalah daya pikir dan daya kreasi merupakan sebagian dari indikator dari perkembangan kognitif. Beberapa teori pembelajaran kognitif yang melandasi pembelajaran Kimia, yaitu :
Teori Konstruktivis
Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan menstransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai (Slavin, 1994: 95). Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide.
Menurut teori ini, satu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Peran guru adalah menyediakan suatu suasana dimana siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberikan siswa kesempatan untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan membelajarkan siswa agar sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan kepada siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut (Slavin, 1994: 40).
Teori Piaget
Teori pembelajaran kognitif yang terkenal adalah teori Piaget, yang berpandangan bahwa pengetahuan datang dari tindakan perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa jauh anak aktif memahami dan aktif berinteraksi dengan lingkungan.
Prinsip-prinsip Piaget dalam pengajaran diterapkan dalam program-program yang menekankan (1) pembelajaran melalui penemuan dan pengalaman-pengalaman nyata dan pemanipulasian langsung alat, bahan atau media belajar yang lain, (2) peranan guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan memungkinkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman belajar yang luas.
Teori Vygotsky
Merupakan salah satu teori yang penting mendasari psikologi perkembangan. Sumbangan paling penting dari teori Vygotsky yaitu menekankan pada hakekat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam “zone of proximal development (zona perkembangan terdekat)”. Yang dimaksud dengan zona perkembangan terdekat adalah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini. Vygotsky lebih jauh yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu sebelum fungsi yang lebih tinggi itu diserap ke dalam individu tersebut (Slavin, 1994: 49).
Pembelajaran Kooperatif
Pendekatan konstruktivis dalam pengajaran khas menerapkan pembelajaran kooperatif “secara ekstensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya (Slavin, 1995: 70). Untuk lebih jelasnya perbedaan antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional dapat secara rinci dilihat dalam Tabel 2.1 berikut ini.
<!--[if gte mso 9]>
Tabel 1 Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif dengan Kelompok Belajar Tradisional
| Kelompok Belajar Tradisional | |
| - Kepemimpinan bersama - Saling ketergantungan yang positif - Keanggotaan yang heterogen - Mempelajari ketrampilan-ketrampilan kooperatif - Tanggung jawab terhadap hasil belajar seluruh anggota kelompok - Menekankan pada tugas dan hubungan kooperatif - Ditunjang oleh guru - Suatu hasil kelompok - Evaluasi kelompok | - Satu pemimpin - Tidak ada saling ketergantungan - Keanggotaan homogen - Asumsi adanya ketrampilan sosial - Tanggung jawab terhadap hasil belajar sendiri - Hanya menekankan pada tugas - Diarahkan oleh guru - Suatu hasil individual - Evaluasi indicator |
Untuk selanjutnya dalam merancang “Rencana Kegiatan” dapat kita gunakan panduan sebagai berikut:
Topik hari ini : konsep, sub konsep.
Tugas kerja yang harus dikerjakan/diselesaikan siswa.
Tujuan : tujuan pembelajaran khusus yang hendak dicapai.
Pembelajaran kooperatif : ketrampilan atau strategi pembelajaran kooperatif yang digunakan dan dilatihkan.
Informasi khusus : metode evaluasi atau informasi khusus lain yang terkait dengan kegiatan ini.
Selanjutnya peran guru dalam kegiatan pembelajaran kooperatif dapat dipahami dengan melihat perbedaan peran guru dalam pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran tradisional pada Tabel 2 berikut ini (Nur, dkk, 1996: 47) :
Tabel 2. Perbedaan Peran Guru
Kelompok Belajar Kooperatif | Kelompok Belajar Tradisional |
| - Menunjang - Mengarahkan kembali pertanyaan - Ketrampilan sosial guru - Mengelola konflik - Menumbuhkan nuansa saling membutuhkan - Membantu siswa mengevaluasi kerja kelompok - Mengembangkan perbedaan pendapat - Menyediakan sumber daya | - Mengarahkan - Menjawab pertanyaan - Membuat aturan - Disiplin - Menganjurkan kebebasan atau berdiri sendiri - Mengevaluasi individu - Mengarahkan diskusi - Bertindak sebagai nara sumber utama |
Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)
Teacher presentation
Guru menyampaikan tujuan dan motivasi belajar pada siswa.
Team study (heterogen), meliputi :
pembentukan kelompok kooperatif,
kerja kelompok menggunakan lembar kerja,
guru membimbing dalam kerja kelompok,
diskusi kelas untuk validasi hasil kerja kelompok.
Individual quizzes (quis secara individual)
Individual improvement score (pengolahan skor per individu)
Team recoqnition (penghargaan kelompok).
Daftar Rujukan:
David A. Humphreys,1994, "Using Demonstrations and Puzzle to Stimulate Thinking”, Proceedings of the 13 th ICCE, San Yuan, Puerto Rico.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Penerbitan Jawa Timur, 2005. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) Sekolah Menengah Atas Surabaya. Surabaya : Satuan Kerja Pembinaan Pendidikan Menengah Umum.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Propinsi Jawa Timur, 2005. Panduan Workshop Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : Satuan Kerja Pembinaan Pendidikan Menengah Umum.
Depdiknas, 2006. Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia SMA, Jakarta: Pemerintah Propinsi Jawa Timur Dinas P dan K Sub. Din. Dikmenum.
Nur, Muhammad dan Wikandri, Prima R., 1998. Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya : IKIP Surabaya University Press.
Nur, Muhammad, 1998. Teori-teori Perkembangan. Surabaya : IKIP Surabaya University Press.
Utiya, Azizah, 1998. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kimia di SMU. Surabaya.
W.T. Lippin Coot, Editor, 1981,"Source Book for Chemistry Teachers", Division of Chemical Education, American Chemical Society.
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang
www.arminaperdana.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar